ANGKA PENJUALAN MOTOR MENINGKAT, BISA SOMBONGKAH PARA ATPM?

ImageSangat wajar bila Agen TunggalPemegang Merek (ATPM) sepeda motor terus melahirkan varian-varian baru disertai embel-embel info bahwa penjualan produknya terus meningkat. Tujuannya jelas, untuk menunjukkan bahwa makin banyak masyarakat yang memilih produknya, lalu mengklaim keunggulan produknya sebagai penyebab.

Karena ingin selalu mengejar target penjualan, produsen pun jor-joran menampilkan model baru, entah bebek irit, matik injeksi gaul, bebek rasa sport, hingga ‘motor laki’. Ingin laris manis, sah saja. Silakan saja. Tapi, sangat disayangkan, umumnya geliat beriklan dan berjualan tidak diimbangi dengan target keselamatan si pembeli. Motor bisa dibeli, tapi nyawa tidak bisa dibeli. Itulah yang seringkali terlupa oleh APM.

Padahal, mendidik konsumen dengan pesan menjaga keselamatan dan berdisiplin berlalu lintas adalah sangat perlu dan wajib. Konsumen tidak hanya perlu dininabobokan dengan berbagai kemudahan prasyarat kepemilikan. Konsumen tidak perlu disugesti atau distimulus oleh keiritan, kedigdayaan mesin injeksi, performa kecepatan motor yang dibeli, apalagi sampai ada ajakan kognitif tidak langsung untuk berperilaku masa bodoh atau agresif di jalan lewat iklan visual.

Akan sangat mulia bila penjualan tidak memenuhi target, namun di sisi lain edukasi kesalamatan berlalu lintas tercapai. Model motor boleh keren, tapi akan lebih keren lagi kalau pemakainya sadar akan keselamatan dan kemananan dirinya dan orang lain.

Keuntungan bukan pada berapa banyak nominal rupiah bisa diraih, bukan pada angka-angka penjualan produk. Melainkan pada angka-angka berapa banyak orang yang pernah merasakan didikan pentingnya keselamatan berkendara, berapa besar dampak tindakan preventif terhadap keselamatan berkendara. Akan lebih dikatakan berhasil, bila motor terjual jutaan, namun di saat yang bersamaan ada jutaan orang yang pernah merasakan pendidikan dan pengetahuan mengendarai yang benar.

Katakanlah, dua juta unit model baru laku di pasaran, maka bila pendidikan dan anjuran berkendaraan benar-benar serius dilakukan – bukan sebatas pencitraaan brand –, setidaknya akan ada dua juta kepala  yang pernah mendapatkan pendidikan itu. Ada sejuta aksi preventif guna mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Salah satunya bisa dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dan praktik safety riding, yang pelaksanaannya selalu dikemas mengikuti perkembangan dan kebutuhan.

Kalau mau jujur –yang tidak perlu disebutkan — bentuk-bentuk safety riding yang dilakukan sejumlah brand sepeda motor dalam beberapa tahun ke belakang hingga kekinian, hampir sama dan seragam. Dalam artian tetap dalam kemasan dan isi paket yang sama, telah lalu dan monoton. Tidak ada aktivitas-ativitas kampanye keselamatan APM yang diluar kebiasaan, yang mampu menghipnotis konsumen atau pemakai motor  untuk merubah perilaku.

Perlu terobosan jitu dalam berkampanye dengan tidak berkaca pada kondisi 3 atau 5 tahun kebelakang, namun kalau perlu agenda kampanye disusun berdasarkan prediksi situasi dan kondisi 3-5 tahun kedepan, dengan tidak melupakan situasi teraktual saat ini.

Kecelakaan dan Komitmen

ImagePembelajaran seperti ini harus digelorakan dan dilakukan siapa saja, demi menekan angka kecelakaan yang terus meningkat.  Dalam dua tahun terakhir ini, kecelakaan lalu lintas di Indonesia oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dinilai menjadi pembunuh terbesar ketiga, di bawah penyakit jantung koroner dan tuberculosis/TBC.

Sebagaimana dilansir situs resmi Badan Intelejen Negara (BIN), di Indonesia, jumlah kendaraan bermotor yang meningkat setiap tahunnya dan kelalaian manusia, menjadi faktor utama terjadinya peningkatan kecelakaan lalu lintas. Data Kepolisian RI menyebutkan, pada 2012 terjadi 109.038 kasus kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebanyak 27.441 orang, dengan potensi kerugian sosial ekonomi sekitar Rp 203 triliun – Rp 217 triliun per tahun (2,9% – 3,1 % dari Pendapatan Domestik Bruto/PDB Indonesia). Sedangkan pada 2011, terjadi kecelakaan sebanyak 109.776 kasus, dengan korban meninggal sebanyak 31.185 orang.

Selain korban kecelakaan lalu lintas lebih didominasi oleh usia muda dan produktif, sebagian besar kasus kecelakaan itu terjadi pada masyarakat bawah sebagai pengguna sepeda motor, dan transportasi umum.

Data yang berbeda dari Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) menyebutkan, kecelakaan pengendara sepeda motor mencapai 120.226 kali atau 72% dari seluruh kecelakaan lalu lintas dalam setahun, Dengan korban yang demikian, dampak sosial kecelakaan lalu lintas adalah akan menciptakan manusia miskin baru di Indonesia, terutama terjadi pada keluarga yang ditinggal suami dan atau orang yang sebelumnya menjadi penopang hidup keluarga.

Melihat pemotor mejadi obyek paling banyak kecelakaan, lantas bagaimana tanggung jawab APM yang lebih bangga dengan angka jualan tahunan?   Mestinya APM memposisikan safety atau keselamatan sebagai hal utama karena menghargai nilai kehidupan. Jadi, dapat dikatakan,  produsen motor tidak selalu memikirkan angka penjualan, atau berapa besar keuntungan nominal rupiah yang bisa diraih. Lebih dari itu, produsen roda dua juga memikirkan keselamatan penggunanya lebih serius lagi.

Bukan cuma di level produsen dan distributor kampanye program safety riding bergulir. Di level dealer atau main dealer pun juga harus gencar dilakukan. Dalam kontek lebih besar, sebagai APM (Produsen dan Distributor), perlu melibatkan secara aktif main dealer dan dilernya dalam menyukseskan program safety riding, yang wajib dijalankan di seluruh Indonesia dengan tingkat kebutuhan dari masing-masing wilayah.

Ambil contoh misalnya, main dealer menyiapkan fasilitas safety riding berikut instruktur dan sebagainya, sementara di tingkat diler terdapat safety riding advisor atau semacamnya.

Sekali lagi, harus diakui, peranan diler memberi pemahaman kepada konsumen sangat penting. Karena, diler langsung berhubungan dengan konsumen, sehingga bisa memberikan edukasi safety riding secara langsung.

Kembali lagi ke soal kasus kecelakaan, kerjasama APM dengan Mabes Polri belumlah cukup. Untuk meningkatkan keselamatan dan mereduksi jumlah kecelakaan, banyak faktor yang harus dipenuhi. Misalnya, hal yang juga penting adalah menciptakan koordinasi antar departemen atau dengan stakeholders terkait, seperti Departemen Perhubungan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Pendidikan Nasional, atau bahkan melibatkan kalangan Perguruan Tinggi.

Pasalnya, secara umum, ada tiga faktor yang menjadi penyebab kecelakaan di jalan raya, yakni faktor manusia (individu), kendaraan, dan lingkungan (situasi lalu lintas, kelayakan kendaraan, rambu lalu lintas, kondisi jalan, dan sebagainya). Tapi, prosentase penyebab kecelakaan yang terbesar adalah faktor yang pertama, yakni manusianya, atau dikenal dengan istilah human error. Karena itu, memberikan pemahaman dan pengetahuan akan pentingnya keselamatan mutlak dilakukan oleh siapa saja, tidak terbatas pada produsen sepeda motor, Polri, atau instansi lain seperti Departemen Perhubungan atau Departemen Pekerjaan Umum.

Kita, dan semua berharap kampanye keselamatan berkendara yang saat ini dijalankan produsen motor berhasil menekan peristiwa tragis di jalan. Akan sangat mulia bila program ini menjadi sebuah keharusan, dan menjadi sebuah komitmen dan kontinuitas bersama yang tidak kenal batas dan waktu.

Jadi, sudah sepatutnya APM tidak lagi hanya memikirkan angka-angka penjualan sebagai sebuah keberhasilan yang dibanggakan. Keberhasilan akan lebih sempurna bila jumlah unit yang terjual sama dengan jumlah konsumen yang memperoleh edukasi berkendara yang aman di jalan. Katakan saja, ada 7 juta sepeda motor yang terjual tahun ini, maka diharapkan akan ada 7 juta pengguna motor yang setidaknya mendapat pelajaran berharga tentang keamanan berkendara lewat program-program safety riding yang dikemas dengan tidak membosankan.

Soal perilaku pengunanya di jalan, kembali lagi kepada individu masing-masing. Yang penting APM sudah serius dan berkomitmen kuat, sekaligus melakukan langkah proaktif dan preventif, yakni mendidik para pengendara motor yang menjadi konsumen setianya. Salam Berkendara Aman.

Penulis : Nazar Ray, Wartawan Otosia.com, Merdeka.com dan Yahoo Indonesia
Foto : Noor Irawan, Wartawan Jurnal Nasional

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s